Tidakkah kamu tahu?

Bagaimana kau hidup di samudera pikirannya yang luas? Bagaimana hah?
Sementara kamu bermain sajak yang bahkan diksinya kau tutup rapat-rapat
Sementara hujan turun lebat laksana air mata tumpah di wajahmu.
Bukankah itu pertanda duka telah mampir?
Aku bertanya “Siapa yang jatuh cinta dengan duka yang kurang ajar itu?”
Kamu tertawa lepas-lepas.
Bagaimana bisa kau tertawa saat singgasana kebahagiaan jauh di antara kita?
Kamu mengangkat bahu, katanya hanya para pepohonan yang tahu.
Terima kasih telah membuatku jatuh cinta pada kata-kata.
Deretan kata itu mampu membuatku berdiri tegak di antara beberapa dinding yang sangat tinggi.
Hey, maaf aku tidak bisa menyebut namamu, aku hanya ingin menjadikan pinta tetap rahasia, hanya aku, Tuhan, dan juga semesta yang tau.
Hey, beginilah caraku mencintaimu, kamu tidak perlu bosan, ini hanya sekedar pemantik rindu untuk melaju.
Aku hanya akan membuatnya sebagai alunan nada yang penuh makna, atas nama kita.
Aku ingin beri tahu, aku selalu menjaga ruang kosong itu, bahkan tidak seorang pun kuizinkan masuk.
Jadi, ketika kamu datang kamu bisa dengan leluasa menikmati ruangan yang nyaman, penuh cinta kasih, dan juga penuh kesabaran.
Aku selalu melangitkan doa, hingga mungkin bahagia milikmu terbang dengan gagahnya.
Aduhai, tidakkah kamu tau?
Aku jadi teringat cuplikan lagu dari the carpenters:
Why do stars fall down from the sky
Every time you walk by, just like me, they long to be close to you~

Untuk tatapan hangat itu, semoga kau bisa tetap menyimpannya, semoga kau bisa berikan kepada orang yang tepat. Aku percaya kamu tetap ada di sana, waktu hanya sedang menjagamu dengan baik, teruslah menebar manfaat.

Semoga kamu masih memanjat doa yang sama, bahagia dan jaga dirimu baik-baik ya.

๐“๐“ฎ๐“ต๐“ช๐“ท๐“ฐ๐“ผ๐“ช

Mentari menari-nari sambil berseri
Saksi insan saling mengasihi
Menggelora rindu terpapar senyap
Temaram menggumam diam-diam
Nurani menggurui temu ragu di hati
Hujan turun jutaan air berjatuhan
Ketenangan merasuki lamunan panjang
Sungguh tak kumengerti
Dunia ini semakin menjadi-jadi
Tak sadar Sang Ilahi mengetuk hati
Dirantai dalam lorong yang sepi
Ditikam rindu sengsara sunyi
Berpisah jarak tak dapat dirasa lagi
Banyak sekali mementingkan ego diri
Masih banyak kerumunan yang tak memiliki arti
Tak ada yang mau mengerti
Mari bangun kesadaran diri
Agar aman mampu menemani

Tumbuh Bersama

Ada yang menghilang,

Namun cahayanya terang

Ada yang mengadu,

Namun bahagia beradu

Ada yang tertawa,

Namun rasa yang ada buta

Ada yang memudar,

Namun warnanya semakin tajam

Ada yang berteman dengan gelap,

Namun makna takkan pernah pergi terlelap

Jauh membiru mengadu merasa pilu,

Tak sadar merona merah senyum merekah,

Tak ada yang sempurna di dunia penuh rasa kecewa

Tak akan berhenti, siapkan tali sepatu mulai berlari,

Ruangan monokrom terasa sempit,

Namun luasnya tak ada yang pernah menyadari,

Jadilah berarti,

Meski satu tinta tak pernah kau miliki.

Berikan cahaya pada dunia yang mulai lenyap.

Tumbuh,

Teruslah tumbuh.

Merangkul, mendekap, memeluk,

Jadilah bermakna.

Kamu dan tentangmu

Ini tentangmu.

Aku hanya ingin menuliskan sebentar saja.

Aku hanya ingin mengenalkanmu pada semesta.

Tentang langit-langit bahagia antara Kita, kunjung jumpa pada setiap tawa.

Tentang Hujan pada sore hari yang tadinya turun, genapkan harapan yang kemudian mereda.

Tentang riuh yang selalu terdengar merdu pada jajaran puisi tentangmu.

Memandangi senyuman indahmu, juga pedagogis di setiap cerita harimu.

Kamu kala itu..

Berderetan di antara aksara paling mengagumkan dalam dunia kecilku.

Mencintaimu adalah deretan dari kegembiraan, seruan senyum manis dalam setiap ingatan, harapan yang terkenang dalam untaian doa, dan cita-cita dalam gelak tawa.

Merindumu adalah keinginan untuk terus menjumpai hari di mana Kita satu sama lain saling mengisi.

Semesta mengingatkanku : ” akankah kamu berubah seiring berjalannya waktu?” Tentu saja senyumanku selalu di ujung jawabku.

Kue cokelat, film baru, senja, bumi, langit, hujan, matahari, perdebatan, canda tawa, peluk hangat, kesalingan menghargai, petuah disetiap hari, hal-hal yang membuatmu tertawa, hal-hal yang membuatmu kecewa, timbang menimbang dalam ingatan.

Senyummu terlalu menggemaskan dan matamu terlalu menghanyutkan.

Pada setiap detik doa selalu mengangkasa menjadi butiran-butiran bahagiamu di setiap harinya.

Kamu dan bahagiamu ringkasan bahagiaku di setiap waktu.

Mengakar indah

Matahari tak seriang kala rindu mulai menggelayut sendu, hingga menjalar hingga ujung akar kau pun tetap layu.

Ialah rindu yang kau jaga separuh waktu, hingga saatnya Allah menggenapkan segala rasa itu menjadi utuh, tidak lagi semu.

Sungguhlah tak ada yang sia-sia dari dua buah hati saling menjaga diri.

Sebab di antara keduanya sama-sama melangitkan doa, menggenggam usaha, menjaga agar semuanya menjadi bermakna.

Jika saja kerutinan yang sama-sama dilakukan, seperti memupuk diri dengan ilmu, menutrisi setiap hari agar bahagia tidak hanya sekadar kata, segala syukur terus tertanam atas peristiwa yang sudah Allah berikan.

Hari demi hari
Bulan pun berdatangan

Hingga tahun laksana merias diri untuk menjadi yang berarti,

Yang terakhir dari yang utama dalam susunan diksi kita adalah Allah sungguh meridhoi Kita untuk bersama menjemput syurgaNya.

Cirebon, 14 Januari 2019

Tentang ayah

Hidup adalah perjuangan. Ketika kamu sedang memperjuangkan sesuatu, kamu hidup.

Pengalaman itu mahal, jika Kita mendapatkannya harusnya Kita bangga, karena itu adalah pelajaran berharga.

Jangan pernah tinggalkan doa dalam keadaan apapun.

Berusahalah anakku, kelak kau akan menjadi penopang ayah ibumu.

-ucap Ayah

Sebenarnya masih banyak perkataan ayah yang bermakna dan tak akan pernah luntur dalam ingatan.

Ayah, putrimu ini ingin bercerita,

Adik sedang terluka oleh keadaan,

Oleh segala kedurjanaan manusia.

Bagaimana adik bisa selalu tegar menghadapinya?

Bagaimana adik bisa membedakan topeng manusia?

Menjadi perasa tidak selalu menyenangkan. Terkadang, adik harus menanggung sendiri atas kekasaran yang dunia berikan.

Apakah adik harus menantang?

Ataukah adik harus bersabar?

Seketika adik teringat tentang kesabaran yang ayah contohkan.

Begini, ketika Kita menemui jalan rusak, jika Kita melawan Kita akan terluka.

Kesabaran tak akan membawa rugi bagi diri. Allah selalu menjanjikan kebahagiaan bagi hambaNya yang bersabar, bukan?

Lalu, bagaimana ketika Kita bersabar, namun orang lain menjadi seenaknya terhadap Kita?

Bukankah adik harus bersuara?

Ayah menjawab:”Ada Allah.”

Allah terima kasih untuk selalu menjaga ayah.

Atasnya aku telah menjadi sisi yang baik bagi diriku.

Atasnya aku telah menghargai,mensyukuri apa yang telah Engkau berikan.

Atasnya aku mampu tegar menjalani apa yang sudah Engkau tetapkan. Gusti,terima kasihku berjuta kasih.

Ayah,pinjami hatimu agar adik tahu bagaimana menghadapi masalah tanpa mengeluh sedikitpun.

Adik tidak sanggup untuk menceritakan semua tentang ayah, yang pasti semua tahu ayah adalah pemimpin terbaik keluarga, hati yang begitu tulus penuh cinta, terima kasih ayah.

Doakan anakmu agar selalu tegar kala dunia memberi pahit yang tak tertakar.

-Dari adik yang sedang menuju dewasa

RidhoNya

Kamu bilang aku miskin diksi?
Pengurangan kadar dari biasanya.
Saat frasa menyanggupi kata,namun kamu membungkam.
Menurutmu,saat seseorang menyemai rindu,apa yang terbaik yang bisa dia lakukan?
Merajut asa bersama Sang Kuasa.
Melambungkan segala pinta agar direstuiNya.
Mencoba mengikhlaskan untuk menerima pemberiaanNya di masa mendatang.
Memanen harapan hanya padaNya,agar segala yang dia adukan pada semesta tidak sia-sia.
Aku memang tidak mahir dalam membuatmu nyaman,aku hanya ingin menjaga.
Dalam gemerlapnya malam,selalu ku adukan agar aku bisa memenangkan kamu pada akhirnya.
Aku tidak peduli penilaianmu seperti apa.
Aku hanya ingin terjaga dalam kebaikan dan iman.
Kamu sudah ku tepikan,tenang saja.
Aku hanya mencari RidhoNya.

-2 Rabiul Awal 1440

Perkenalkan, dia rindu.

Termenungku pada lampu di pinggir jalan,

Kemudian, datanglah sosok yang sangat ku hapal aroma wujudnya.

“Permisi Nona, perkenalkan saya rindu.”

Sorot mataku sangat tajam untuk mengenalnya, berapa putaran jam ku selalu menepiskannya?

Mengapa dia hadir?

Datang lagi?

Menyapa lagi?

Membuat secercah senyuman lagi?

Jangan bilang, dia hanya ingin tahu kabarku.

Rindu!!

Tak bisakah kau menghargai waktu?
Kala tak pernah ku hentikan nama itu, namun, Tuhan tau agar aku dapat menghentikan nama itu.
โ€ŒRindu, sadarlah! ruang itu bimbang, antara tertutup atau terbuka. Perasaan selalu bertempur dan berantonim dengan logika. Bagaimana bisa? Aku mencoba mengalah pada waktu, karena ku tahu, mengalah bukan berarti kalah. Namun mencoba berdamai, karena ku tak sanggup menelan beberapa tatapan sinis tak bertuju saat tegarku terhadap senyuman. Mengapa memori selalu tarputar? Rindu kembali mengoyak diri. Rasanya kau tahu? Sesak. Ya sangat sesak.

Bawalah beberapa kebahagiaan untukmu,juga untuk diriku, sampaikan bahwa rindu selalu datang menghampiriku.

Cirebon,27 Juli 2018

12:01 AM