Mengakar indah

Matahari tak seriang kala rindu mulai menggelayut sendu, hingga menjalar hingga ujung akar kau pun tetap layu.

Ialah rindu yang kau jaga separuh waktu, hingga saatnya Allah menggenapkan segala rasa itu menjadi utuh, tidak lagi semu.

Sungguhlah tak ada yang sia-sia dari dua buah hati saling menjaga diri.

Sebab di antara keduanya sama-sama melangitkan doa, menggenggam usaha, menjaga agar semuanya menjadi bermakna.

Jika saja kerutinan yang sama-sama dilakukan, seperti memupuk diri dengan ilmu, menutrisi setiap hari agar bahagia tidak hanya sekadar kata, segala syukur terus tertanam atas peristiwa yang sudah Allah berikan.

Hari demi hari
Bulan pun berdatangan

Hingga tahun laksana merias diri untuk menjadi yang berarti,

Yang terakhir dari yang utama dalam susunan diksi kita adalah Allah sungguh meridhoi Kita untuk bersama menjemput syurgaNya.

Cirebon, 14 Januari 2019

Iklan

Tentang ayah

Hidup adalah perjuangan. Ketika kamu sedang memperjuangkan sesuatu, kamu hidup.

Pengalaman itu mahal, jika Kita mendapatkannya harusnya Kita bangga, karena itu adalah pelajaran berharga.

Jangan pernah tinggalkan doa dalam keadaan apapun.

Berusahalah anakku, kelak kau akan menjadi penopang ayah ibumu.

-ucap Ayah

Sebenarnya masih banyak perkataan ayah yang bermakna dan tak akan pernah luntur dalam ingatan.

Ayah, putrimu ini ingin bercerita,

Adik sedang terluka oleh keadaan,

Oleh segala kedurjanaan manusia.

Bagaimana adik bisa selalu tegar menghadapinya?

Bagaimana adik bisa membedakan topeng manusia?

Menjadi perasa tidak selalu menyenangkan. Terkadang, adik harus menanggung sendiri atas kekasaran yang dunia berikan.

Apakah adik harus menantang?

Ataukah adik harus bersabar?

Seketika adik teringat tentang kesabaran yang ayah contohkan.

Begini, ketika Kita menemui jalan rusak, jika Kita melawan Kita akan terluka.

Kesabaran tak akan membawa rugi bagi diri. Allah selalu menjanjikan kebahagiaan bagi hambaNya yang bersabar, bukan?

Lalu, bagaimana ketika Kita bersabar, namun orang lain menjadi seenaknya terhadap Kita?

Bukankah adik harus bersuara?

Ayah menjawab:”Ada Allah.”

Allah terima kasih untuk selalu menjaga ayah.

Atasnya aku telah menjadi sisi yang baik bagi diriku.

Atasnya aku telah menghargai,mensyukuri apa yang telah Engkau berikan.

Atasnya aku mampu tegar menjalani apa yang sudah Engkau tetapkan. Gusti,terima kasihku berjuta kasih.

Ayah,pinjami hatimu agar adik tahu bagaimana menghadapi masalah tanpa mengeluh sedikitpun.

Adik tidak sanggup untuk menceritakan semua tentang ayah, yang pasti semua tahu ayah adalah pemimpin terbaik keluarga, hati yang begitu tulus penuh cinta, terima kasih ayah.

Doakan anakmu agar selalu tegar kala dunia memberi pahit yang tak tertakar.

-Dari adik yang sedang menuju dewasa

RidhoNya

Kamu bilang aku miskin diksi?
Pengurangan kadar dari biasanya.
Saat frasa menyanggupi kata,namun kamu membungkam.
Menurutmu,saat seseorang menyemai rindu,apa yang terbaik yang bisa dia lakukan?
Merajut asa bersama Sang Kuasa.
Melambungkan segala pinta agar direstuiNya.
Mencoba mengikhlaskan untuk menerima pemberiaanNya di masa mendatang.
Memanen harapan hanya padaNya,agar segala yang dia adukan pada semesta tidak sia-sia.
Aku memang tidak mahir dalam membuatmu nyaman,aku hanya ingin menjaga.
Dalam gemerlapnya malam,selalu ku adukan agar aku bisa memenangkan kamu pada akhirnya.
Aku tidak peduli penilaianmu seperti apa.
Aku hanya ingin terjaga dalam kebaikan dan iman.
Kamu sudah ku tepikan,tenang saja.
Aku hanya mencari RidhoNya.

-2 Rabiul Awal 1440

Perkenalkan,dia rindu.

Termenungku pada lampu di pinggir jalan,

Kemudian,datanglah sosok yang sangat ku hapal aroma wujudnya.

“Permisi Nona,perkenalkan saya rindu.”

Sorot mataku sangat tajam untuk mengenalnya,berapa putaran jam ku selalu menepiskannya?

Mengapa dia hadir?

Datang lagi?

Menyapa lagi?

Membuat secercah senyuman lagi?

Jangan bilang,dia hanya ingin tahu kabarku.

Rindu!!

Tak bisakah kau menghargai waktu?
Kala tak pernah ku hentikan nama itu, namun, Tuhan tau agar aku dapat menghentikan nama itu.
‌Rindu, sadarlah! ruang itu bimbang, antara tertutup atau terbuka. Perasaan selalu bertempur dan berantonim dengan logika. Bagaimana bisa? Aku mencoba mengalah pada waktu, karena ku tahu, mengalah bukan berarti kalah. Namun mencoba berdamai, karena ku tak sanggup menelan beberapa tatapan sinis tak bertuju saat tegarku terhadap senyuman. Mengapa memori selalu tarputar? Rindu kembali mengoyak diri. Rasanya kau tahu? Sesak. Ya sangat sesak.

Bawalah beberapa kebahagiaan untukmu,juga untuk diriku,sampaikan bahwa rindu selalu datang menghampiriku.

Cirebon,27 Juli 2018

12:01 AM